Rabu, 06 Juni 2012


“BLM (bukan) Elemen Mahasiswa yang Tidak Ada Kerjanya”
_____________________________________________
Apa yang akan Anda jawab, jika ada orang yang menanyakan kepada Anda tentang Badan Legislatif Mahasiswa (BLM) ? Mungkin Anda menjawab, BLM adalah lembaga mahasiswa tertinggi di kampus tingkat fakultas sebagai perwakilan dari seluruh mahasiswa, yang bertugas mengawasi  kinerja dan pengelolaan keuangan Badan Eksekutif Mahasiswa serta elemen mahasiswa lainnya. Namun, mungkin ada juga beberapa dari Anda yang akan menjawab bahwa BLM adalah elemen mahasiswa yang tidak ada kerjanya. Bisa jadi benar, bisa juga tidak benar. 
Paling tidak 2 tahun terakhir ini, kita sebagai mahasiswa ,  merasakan bahwa BLM kurang memiliki peran dalam kehidupan kemahasiswaan kampus. Bisa jadi kita yang kurang mengikuti perkembangan aktivitas BLM (“kurang” bukan berarti “tidak sama sekali”), atau mungkin juga karena kurangnya publikasi aktivitas BLM melalui media kampus. Saya yakin, bahwa BLM bukanlah elemen mahasiswa yang tidak ada kerjanya, bahkan sebaliknya, memiliki tugas dan tanggungjawab yang amat besar dan banyak. Jadi, untuk sementara kita berkesimpulan, bahwa kita lah yang kurang mengikuti gerak aktivitas BLM dalam dinamika kampus, bukan BLM yang tidak memiliki peran.
Jika demikian, lantas apa sebenarnya peran BLM dalam dinamika kampus? BLM memiliki fungsi legislasi, pengawasan, dan anggaran dalam ranah mahasiswa. Fungsi legislasi dijalankan dengan membentuk regulasi yang mengikat lembaga mahasiswa yang terhimpun dalam Keluarga Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (KM FKIP). Selain itu, BLM juga memiliki fungsi pengawasan yang dilakukan dengan pembentukan komisi-komisi dalam tubuh BLM guna mengawasi kinerja departemen-departemen di Badan Eksekutif Mahasiswa. Tak kalah pentingnya adalah fungsi anggaran, yang dalam pelaksanaannya dilakukan oleh alat kelengkapan BLM yang bersifat tetap, yang dibentuk oleh BLM.
Semua fungsi tersebut dapat bekerja dengan baik dan efektif bila didukung oleh informasi-informasi yang berasal dari mahasiswa. Artinya untuk mendapatkan informasi tersebut, menjadi sebuah keharusan bagi anggota BLM untuk sering bertukar pikiran dengan mahasiswa konstituennya, mengenai dinamika kampus. Bertanya tentang apa yang diinginkan oleh mahasiswa, mendengar apa yang diharapkan mahasiswa, “membaca” isu yang mencuat di lapangan, mengumpulkan segala bentuk aspirasi yang dicurahkan konstituennya, yang sebenarnya adalah rekannya sendiri sesama mahasiswa. Terdengar sangat mudah ya? Dalam kenyataannya hal ini sangat susah dilakukan. Namun saya yakin, meski susah, Insya Allah bisa dilakukan!
Sangat penting bagi anggota BLM memiliki kemampuan mendengar sebaik kemampuan berbicara. Kemampuan mendengar inilah yang menjadi senjata pamungkas bagi suksesnya BLM menjalankan peran dalam dinamisasi kehidupan kampus.  Dengan kemampuan ini, aspirasi mahasiswa terserap dan kemudian dapat ditindaklanjuti melalui alat apa saja, bisa melalui rapat, regulasi, teguran kepada BEM atau lembaga mahasiswa lainnya, perbaikan diri sendiri, atau bahkan kepada dekanat.
Selain itu, tindakan nyata merupakan sebuah keniscayaan. Jika hanya mendengar dengan benar-benar mendengar, tanpa adanya tindakan solutif, maka efektivitas kinerja BLM akan diragukan dan mahasiswa tidak lagi percaya pada para wakilnya di BLM, karena merasa tidak ada respon sesuai harapan. Namun perlu digarisbawahi pula bahwa tidak semua aspirasi butuh tindakan nyata. Diperlukan proses lainnya untuk mendapatkan solusi yang terbaik.
Oleh karena itu dibutuhkan orang-orang yang multitalent untuk menduduki amanah jabatan sebagai anggota BLM, yang mampu mendengar, mencerna informasi, dan menghasilkan keputusan yang tepat. Tugas yang sangat berat bagi sebuah elemen mahasiswa tertinggi di kampus tingkat fakultas Sesuai dengan nature-nya, semakin tinggi kedudukan, semakin besar dan berat tanggungjawab yang dipikulnya. 
Tak lepas dari usaha mandiri BLM untuk memperbaiki dinamika kehidupan kampus, adalah dukungan penuh dari segenap mahasiswa FKIP UNSIL yang BLM butuhkan. Jika sedemikian keras usaha yang BLM telah lakukan, namun kurang mendapatkan dukungan dari mahasiswa, maka usaha BLM ini bagaikan bertepuk sebelah tangan. Tidak akan menghasilkan apa-apa. Oleh karena itu, saya mengajak kepada kita semua, seluruh elemen mahasiswa, bersama kita membangun kehidupan kemahasiswaan kampus FKIP UNSIL yang lebih baik!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar